HOAX Daya Beli Turun

Hoax Hoax
HOAX Daya Beli Turun
Jika kita melihat data Badan Pusat Statistika (BPS) di bawah maka kita akan sangat terkejut melihat bahwa pada bulan Juli 2017 terjadi peningkatan sangat tajam penjualan motor nasional 76%. Penjualan mobil di seluruh Indonesia pun meroket 39% di bulan yang sama. Pantas saja Jakarta dan kota-kota besar lainnya semakin macet. Data ini menjelaskan tulisan Prof. Rhenald Kasali yang heran jika memang daya beli turun, lantas mengapa Jakarta semakin macet?

GRATIS Seminar Bisnis Online Tanpa Modal
Bergabunglah bersama 36 ribu anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD) yang sudah memiliki bisnis online tanpa modal dengan bantuan LADOVA Consulting, Digital Business Consulting
GRATIS menghadiri seluruh pelatihan bisnis online tanpa modal dengan menjadi anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD)

HOAX

Indikator nasional lainnya yang bisa kita lihat adanya peningkatan daya beli adalah penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) yang meningkat 10%. Menariknya, kontribusi 59% produk domestik bruto (PDB) Indonesia berasal dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mayoritas bergerak di sektor informal dan belum boleh memungut PPN karena belum PKP (pengusaha kena pajak).
Begitu juga dengan marketplace online customer to customer (C2C) seperti Tokopedia dan Bukalapak, mayoritas seller mereka tidak memungut PPN karena omzetnya masih di bawah Rp. 4,8 milyar dan belum PKP. Hanya usaha besar yang sudah PKP yang boleh memungut PPN. Jadi jika ada usaha yang memungut PPN, konsumen berhak untuk mendapatkan faktur pajak sederhana (FPS) serta menanyakan surat PKP yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak. Ada banyak pengusaha nakal yang belum PKP tapi mengenakan  PPN dan mereka tidak menyetorkan uang tersebut ke negara.
Berbeda dengan marketplace business to business (B2B) dan business to customer (B2C) besar seperti Lazada, MatahariMall dan BliBli yang sudah PKP maka mereka berhak memungut PPN ke para konsumennya.
Menariknya, hal ini membuat marketplace B2B dan B2C yang wajib memungut PPN memiliki harga yang lebih mahal 10% dari harga produk di marketplace C2C yang mayoritas penjualnya adalah UKM.
Tokopedia dan Bukalapak masing-masing mengumumkan bahwa total transaksi mereka per bulan sudah tembus Rp. 1 triliun. Dari 2 marketplace C2C terbesar ini saja transaksi retail online sudah mencapai Rp. 24 triliun per tahun. Jadi sangat wajar jika ada beberapa perusahaan retail besar yang omzetnya turun 20% karena omzetnya berpindah ke mal online. Inilah yang dinamakan sudden shift.
Berbeda dengan evolusi, revolusi adalaha perubahan yang sangat cepat. Setiap revolusi pasti memakan banyak korban karena tidak semua orang bisa beradaptasi dengan perubahan dalam waktu singkat.
Banyak mal offline sepi pengunjung karena pengunjungnya pindah bertransaksi di mal online. Di sektor transportasi, omzet taksi offline benar-benar anjlok sampai 57% karena konsumennya pindah ke aplikasi ride sharing.
Jadi tidak benar daya beli turun, yang benar adalah terjadinya perpindahan omzet dari pemain offline yang menguasai pasar selama puluhan tahun ke pemain online yang baru berdiri 1 sampai 8 tahun yang lalu. Meroketnya bisnis online berakibat juga pada manisnya bisnis logistik. Kita bisa melihat bagaimana pengantaran paket JNE  meningkat 30%. Kita bahkan akan tercengang ketika mengetahui ada 1 juta transaksi per hari di Tokopedia. Artinya ada 1 juta pengantaran paket hanya dari Tokopedia saja.
Kunci menghadapi Revolusi Digital hanya 1: terjun ke bisnis online dan mengetahui strateginya.
Mari kita pelajari Strategi Promosi Efektif di Era Digital GRATIS:
Narasumber:
1. Anthony Fung*
CEO ZALORA Indonesia
2. Wilson Partogi
Ketua Umum Asosiasi Bisnis Digital
*masih dalam konfirmasi
Waktu:
Kamis, 12 Oktober 2017
18.00 – 21.00
Tempat:
The Elements, Rasuna Epicentrum
Disediakan makan malam prasmanan.
Daftar via email ke info@ladova.net cantumkan nama dan nomor HP.
Hanya 150 peserta terpilih yang akan dikirimkan undangan via email.
Info lebih lanjut:

Leave a comment

Your email address will not be published.


*