GRATIS Tingkatkan Omzet Anda 3 Kali Lipat

Online Marketing

Mengapa Saham Minoritas Tokopedia Dibeli Alibaba Rp. 14 Triliun?
Mengapa Tokopedia Merupakan Investasi Terbaik Alibaba di Indonesia?

GRATIS Seminar Bisnis Online Tanpa Modal
Bergabunglah bersama 36 ribu anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD) yang sudah memiliki bisnis online tanpa modal dengan bantuan LADOVA Consulting, Digital Business Consulting
GRATIS menghadiri seluruh pelatihan bisnis online tanpa modal dengan menjadi anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD)

Jawabannya ada di dalam artikel ini. Teruslah membaca sampai habis dalam 5 menit…

Total transaksi bisnis online di Indonesia sudah mencapai Rp. 359 triliun di tahun 2016.
Jutaan bisnis online menyedot omzet bisnis offline. Bisnis online menawarkan harga yang jauh lebih murah, GRATIS Ongkos Kirim serta jutaan variasi produk yang tidak mungkin bisa dilawan oleh pemain bisnis offline.
Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO)  yang mayoritas beranggotakan pengusaha retail offline memberitakan bahwa para anggotanya mengalami penurunan omzet sangat tajam sebesar 20%. Dua puluh persen bagi pengusah retail bukanlah angka yang kecil. Jika omzet salah satu bisnis retail saja Rp. 10 triliun per tahun, maka penurunan 20% saja artinya mereka kehilangan omzet Rp. 2 triliun per tahun. Pantas saja banyak sekali pengusaha retail offline ramai-ramai menutup toko offline-nya yang luasnya ribuan meter persegi.

Lantas ke mana larinya Rp. 2 triliun ini? Kemana lagi kalau bukan ke pemain bisnis online yang didirikan oleh para anak-anak muda di bawah 30 tahun. Tokopedia dan Bukalapak sama-sama mengumumkan bahwa total transaksi penjualan mereka per bulan sudah mencapai Rp. 1 triliun per bulan. Itu artinya hanya dari 2 pemain bisnis online saja, mereka berdua sudah mencatatkan omzet Rp. 24 triliun per tahun. WOW! Itu belum termasuk 36.000 pengusaha bisnis online lain dari Asosiasi Pebisnis Online Indonesia (APOI) yang mencatatkan total transaksi Rp. 1 triliun/tahun!

HOAX DAYA BELI TURUN 
Padahal mayoritas pengusaha online anggota APOI isinya anak-anak muda di bawah 30 tahun yang baru mengenal bisnis retail kemarin sore. Pantas saja jika para pengusaha retail offline yang rugi triliun setiap hari teriak-teriak daya beli turun dan menutupnya gerai-gerai mereka yang sepi. Anehnya, mengapa tidak ada satu pun pemain bisnis online yang mengatakan daya beli turun?  Karena FAKTA-nya daya beli meningkat tajam, hal ini terlihat dari angka penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) meningkat 13%. Sektor retail offline memang anjlok, omzet pedagang Tanah Abang, Mangga Dua, Glodok dan Roxy turun signifikan dimakan para pedagang online di Mal Online Tokopedia dan Bukalapak. Tokopedia sendiri mencatatkan 1 juta transaksi per hari atau 365 juta transaksi per tahun. Pertanyaannya, apakah 365 juta penjualan yang terjadi di Tokopedia apakah memerlukan perusahaan logistik untuk pengiriman barang? Tentu saja perlu, itu sebabnya JNE meraup panen raya di tengah melejitnya industri bisnis online. Padahal drastis serta pengiriman paket JNE yang meningkat tajam 30%. Dari mana datangnya kenaikan 30% ini? Dari mana lagi kalau bukan marketplace raksasa seperti Lazada, Tokopedia, Bukalapak, BliBli,

Padahal jutaan pengusaha online masih banyak yang belum mengenakan PPN loh ke konsumennya. Para pengusaha UKM Online yang belum PKP (Pengusaha Kena Pajak, omzet di bawah Rp. 4, 8 milyar per tahun) memang dilarang memungut PPN. Sebaliknya, para pengusaha besar yang sudah PKP (omzet di atas Rp. 4,8 milyar per tahun) diwajiban untuk memungut PPN untuk setiap penjualan produk yang mereka jual. Kalau begini caranya bagaimana pengusaha besar bisa bersaing dengan pengusaha kecil yang bisa menawarkan minimal 10% harga yang lebih murah karena tidak memungut PPN.Hebatnya regulasi pajak ini sangat-sangat menguntungkan pengusaha UKM Online. Kebijakan pajak brilian yang sangat pro-UKM ini tentunya tidak adil bagi pengusaha besar namun di dunia ini mana ada yang adil bung! Yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin.

Namun di era digital ini sayangnya yang terjadi sekarang justru kebalikannya, yang kaya semakin miskin, sedangkan yang miskin semakin kaya. Inilah keseimbangan sistem ekonomi dunia baru yang sangat menguntungkan pengusaha kecil namun membrangkutkan pengusaha besar. Gelombang diskon habis-habisan tutup toko serta ribuan PHK yang sudah terjadi di berbagai bisnis retail raksasa menunjukkan para raksasa bisnis harus bertekuk lutut melambaikan bendera putih kepada pengusaha kecil.

Perubahan tak bisa dihindari dan setiap detiknya perubahan semakin cepat terjadi. Pemain raksasa yang ibarat Goliath tidak bisa lagi melakukan pergerakan bisnis serta perubahan dengan cepat karena memiliki ribuan karyawan yang sangat gemuk, biaya sewa mall yang selangit serta biaya operasional yang sangat tinggi. Sebaliknya, pemain kecil mungil yang bagai Daud justru hanya dengan bermodalkan ketapel sederhana bisa menjatuhkan Sang Raksasa, Goliath. Akhirnya Daud yang hanya gembala kambing miskin berhasil dalam hitungan jam dielu-elukan menjadi Raja Israel karena menang melawan Goliath, wakil bangsa Filistin yang terkenal bertubuh raksasa dan jago bertarung. Raja Daud sampai hari ini merupakan raja terbesar dan terkaya No. 2 yang pernah ada sepanjang sejarah. Hebatnya lagi, putra Raja Daud, Raja Salomo merupakan raja terbesar dan terkaya No. 1 yang pernah ada sepanjang sejarah. Pertanyaannya saat ini, apakah bisnis Anda ingin seperti Daud, Salomo atau Goliath? Coba Anda renungkan…

TINGKATKAN OMZET ANDA 3 KALI LIPAT
Satu-satunya cara tumbuh besar di era digital ini adalah menjaga bisnis kita tetap lincah dan cepat mengantisipasi perubahan yang terjadi setiap detiknya. Perubahan bisa terjadi kapan saja dan menghancurkan bisnis kita dalam waktu semalam. Datangnya inovasi canggih 3G, 4G, 5G, Wimax, WifiGoogle Loon, Google Station dan Facebook Aquila yang memberikan akses internet GRATIS bisa kapan saja membuat seluruh pemain telco dan ISP (Internet Service Provider) gulung tikar. Bisnis besar bermodal besar dan beraset besar sangat tidak siap untuk berubah dan  sudah terbukti mulai bangkrut dikalahkan oleh bisnis kecil yang tidak punya aset dengan karyawan kurang dari 50 orang. Bayangkan, hanya dengan 55 orang karyawan, WhatsApp kini membuat semua pemain telco di seluruh dunia gigit jari karena pendapatan mereka dari pulsa SMS dan pulsa telepon merosot 90% karena milyaran pengguna WhatsApp bisa saling video call dan mengirim pesan, gambar dan video tanpa batasan karakter. Bahkan tiap hari kita asik ngobrol dengan teman-teman yang jaraknya berjauhan di WA Group.

Internet membuat yang jauh menjadi dekat namun yang dekat menjadi jauh. Akibatnya telco harus bersaing berjualan kuota paket data murah  dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Parahnya lagi bisnis data sudah menjadi mainan para ISP puluhan tahun yang kini menghadirkan layanan UNLIMITED FIBRE OPTIC dengan kecepatan koneksi 100 Mbps + TV cable dengan harga yang jauh di bawah harga kuota data telco yang sangat mahal.

INDUSTRI TELCO DI AMBANG KEBANGKRUTAN
Dengan inovasi 5G yang begitu cepat, bagaimana caranya telco bisa pindah ke 5G jika investasi 4G yang menhabiskan triliunan rupiah belum modal? Jawabannya tidak bisa. Cepat atau lambat telco pasti bangkrut. Hal ini diperparah dengan masifnya pembagunan serat optik ke pelosok-pelosok Indonesia oleh para pemain ISP yang merupakan anggota APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Bagaimana mungkin telco bisa bertahan 10 tahun lagi? Paling tidak sampai 5 tahun juga sudah BANGKRUT! Jadi jika hari ini Anda masih memiliki saham telco lebih baik Anda jual sekarang juga sebelum Anda menyesal 5 tahun ke depan. Mau tidak mau puluhan ribu pemain telco di ratusan negara harus menyerah kalah oleh WhatsApp yang dibeli oleh Facebook senilai Rp. 308 Triliun ($ 22 milyar). Banyak orang awam yang tidak mengerti mengapa WhatsApp yang tidak memiliki penghasilan dan terus merugi dibeli dengan harga fantastis. Sebelum dibeli Facebook, pengguna WhatsApp baru 500 juta saja namun hari ini pengguna harian WhatsApp sudah tembus 1 milyar! Bayangkan ada 1 milyar penduduk dunia yang hanya membutuhkan akses internet wifi gratisan untuk bisa menelepon teman-temannya sesama pengguna WhatsApp di seluruh dunia. Luar biasa bukan? Jika WhatsApp menarik bayaran $1 per tahun untuk maka potensi penghasilan yang bisa didapatkan WhatsApp adalah $ 1 milyar per tahun atau dalam 22 tahun investasi Facebook balik modal.

INVESTASI TERBAIK FACEBOOK
Lantas, apa jadinya jika ada 3 milyar pengguna WhatsApp di dunia? Tinggal kalikan 3 saja yang artinya $ 3 milyar per tahun atau investasi Facebook 7,3 tahun balik modal. Bagaimana jika suatu hari nanti ada 7 milyar penduduk dunia yang menggunakan WhatsApp? Berarti WhatApp bisa mengantongi $ 7 milyar per tahun. Bagaimana jika WhatsApp menaiikan tarif iurannya menjadi $ 10/tahun? Penghasilannya bisa naik 10 kali lipat menjadi $ 70 milyar per tahun. Jadi Anda masih mengira Mark Zuckerberg orang bodoh yang membeli bisnis rugi senilai Rp. 308 Triliun? Semoga dengan membaca kalkulasi sederhana di atas pola pikir kita semua tercerahkan bahwa internet membuat dunia begitu revolusioner. Siapa saja yang tinggal di negara mana saja kini dengan adanya koneksi internet bisa memiliki peluang untuk sukses yang sama. Jadi sangat aneh jika ada Mantan Menkominfo bertanya internet cepat buat apa? Karena seharusnya sebagai seorang Menkominfo beliau harusnya tahu bahwa koneksi internet cepat, stabil dan murah bisa memakmurkan seluruh rakyat Indonesia dalam waktu singkat. Dengan internet cepat, kini siapa saja bisa berjualan di Tokopedia, Alibaba dan Lazada. Bahkan dengan bantuan Alibaba, kini jutaan pengusaha China bisa dengan mudahnya berjualan ke ratusan negara di seluruh dunia?

TOKOPEDIA MERUPAKAN INVESTASI TERBAIK ALIBABA
Bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita mau Kopi Luwak asli Indonesia yang merupakan kopi termahal di dunia dijual seluruh dunia di Alibaba dan Tokopedia? Jika kita lihat di Tokopedia, harga Kopi Luwak mencapai Rp. 1.700.000. Bahkan di balai lelang Eropa, harga Kopi Luwak tembus Rp. 100 juta per kg. Hal ini sangat mungkin jika Anda tahu harus menjualnya ke siapa: para milyarder di seluruh dunia yang cinta kopi luwak. Jika Anda ingin tahu mengapa para milyarder Amerika dan Eropa sangat suka Kopi Luwak cobalah menonton film The Bucket List yang dibintangi oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Pantaslah Jack Ma kini menjadi orang nomor 2 terkaya di dunia dengan harta Rp. 554 triliun karena beliau telah menolong jutaan UKM China untuk Go Global. Jika di China ada Jack Ma, beruntung di Indonesia kita punya William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison, duo founder Tokopedia yang memiliki visi mewujudkan Indonesia yang lebih baik melalui internet. Jadi jika Anda masih bingung mengapa minoritas saham Tokopedia bisa dibeli dengan harga Rp. 14 Triliun, maka Anda perlu membaca artikel ini 2-3 kali lagi sampai paham betul.

TINGKATKAN OMZET 3 KALI LIPAT
Belajar dari Tokopedia, mengapa kita harus fokus ke pertumbuhan bisnis (omzet) terlebih dahulu ketimbang profit? Kita akan membahas puluhan pertanyaan yang timbul ketika Anda membaca artikel ini pada tanggal 12 September nanti. Jika Anda serius ingin membangun bisnis Anda layaknya WhatsApp yang bergerak lincah hanya dengan 55 karyawan namun menjadi RAJA seperti Daud, mari kita pelajari Strategi Jitu  Meningkatkan Omzet 3 Kali Lipat langsung dari para praktisi di bidangnya:

Pembicara:
1. Wilson Partogi – Ketua Umum Asosiasi Bisnis Digital (ABD)
2. Anthony Fung* – CEO ZALORA Indonesia
2. Sahat Sihombing* – CEO Astragraphia Xprins Indonesia
*sedang dalam konfirmasi

Moderator: Sonia Wibisono

Hari/Tanggal :
Kamis, 12 Oktober 2017
Waktu               : 18.00 – 21.00
Dress Code      : Batik
Tempat:            : The Elements, Rasuna Epicentrum

GRATIS untuk anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD)
(Biaya keanggotaan ABD hanya Rp. 1 juta per tahun dan GRATIS setiap event ABD setiap bulannya).
Daftar keanggotaan DBA ke info@ladova.net dengan subjek email: DAFTAR DBA

GRATIS
untuk 100 peserta yang PALING BANYAK membagikan artikel ini ke Group WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram dan LinkedIn (kirimkan bukti screenshot via email ke info@ladova.net dengan judul email: JUMLAH GROUP WHATSAPP & SOSIAL MEDIA yang di-share SPASI nama website)

DISKON KOMUNITAS:
Diskon 50%
untuk anggota CEO Indonesia Hebat (CIH)
Diskon 50% untuk anggota Asosiasi Pebisnis Online Indonesia (APOI)
Diskon 50% untuk anggota Komunitas Printing Indonesia (KOPI)
Diskon 50%
untuk anggota Komunitas Sales Indonesia (KOMISI)
Diskon 50%
untuk anggota Billionaire Mindset (BM)
Diskon 50%
untuk anggota Business Community (Bizcom)
Diskon 50%
untuk alumni Workshop Google Gapura Digital

Disediakan makan malam prasmanan untuk 150 orang peserta yang hadir pertama.
GRATIS Voucher Pelatihan Digital Marketing senilai Rp. 1.000.000 persembahan LADOVA Consulting.

Info lebih lanjut: www.LADOVA.net

Leave a comment

Your email address will not be published.


*