Ekonomi Digital Indonesia Dijajah Asing

EKONOMI DIGITAL INDONESIA DIJAJAH ASING

GRATIS Seminar Bisnis Online Tanpa Modal
Bergabunglah bersama 36 ribu anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD) yang sudah memiliki bisnis online tanpa modal dengan bantuan LADOVA Consulting, Digital Business Consulting
GRATIS menghadiri seluruh pelatihan bisnis online tanpa modal dengan menjadi anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD)

Kemarin puluhan pelaku ekonomi digital lokal dari berbagai asosiasi diundang Komite Ekonomi & Industri Nasional (KEIN) berkumpul dalam satu ruangan selama seharian penuh untuk merumuskan mau dibawa ke mana ekonomi digital bangsa?

Ekonomi DigitalRatusan triliun perputaran uang di e-commerce saat ini sudah dikuasai perusahaan asing. Di mana KEBERPIHAKAN pemerintah terhadap pemain lokal?

PROTEKSI ATAU MATI
Bahasa kasar dari keberpihakan adalah PROTEKSI. Layaknya pemerintah China, pemerintah Indonesia harus berani melindungi pemain lokal dari gempuran asing. Hari ini tidak akan ada yang namanya Alibaba jika pemerintah China bebas membiarkan Amazon bebas ekspansi ke China. Saat ini bahkan omzet Alibaba hampir 3 kali lipatnya Amazon. Tentu hal ini tidak akan terjadi tanpa adanya keberpihakan pemerintah China terhadap Alibaba.

Kita bisa melihat betapa frustasinya Google, Facebook, Yahoo dan Uber menembus pasar lokal Tiongkok.
Keberpihakan pemerintah China terhadap para bayi digital lokal telah melahirkan raksasa-raksasa digital paling mengerikan di dunia: Alibaba, Baidu, Tencent dan Didi Chuxing

BUMN VENTURE CAPITAL
Bagaimana Indonesia bisa melahirkan raksasa digital kelas dunia? Mudah saja! Pemerintah cukup melakukan suntikan Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) melalui BUMN Venture Capital dan melakukan nasionalisaai
e-commerce lokal dan asing jika tidak mau melihat rakyatnya menjadi budak digital 5-10 tahun ke depan. Dengan APBN 2018 sebesar Rp. 2.204 triliun maka BUMN Venture Capital akan memiki kekuatan sangat besar untuk mengakuisisi Tokopedia, Bukalapak, Traveloka dan Go Jek dan membawa pemain lokal ekspansi ke seluruh dunia serta Go Public di berbagai pasar modal dunia. BUMN Venture Capital bisa menikmati capital gain ribuan kali lipat dengan melakukan investasi ini.

Bahkan BUMN Venture Capital bisa memborong saham Google, Facebook, Alibaba dan Amazon di pasar saham untuk mendapatkan hak veto dalam setiap pengambilan keputusan penting raksasa digital dunia.

Pembentukan BUMN Venture Capital dapat mempercepat visi pemerintah menjadi DIGITAL ENERGY OF ASIA. Indonesia saat ini sudah menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara berkat investasi milyaran dollar para raksasa digital dunia. Namun sayangnya investasi milyaran dollar ini tidak dinikmati para founder start up melainkan para venture capital asing yang sudah berinvestasi jutaan dollar di awal-awal start up tersebut baru berdiri.

Dengan investasi milyaran dollar Alibaba di beberapa e-commerce terbesar di Asia Tenggara maka praktis ekonomi digital Asia Tenggara sudah dikuasai Alibaba sedangkan pemain lokal hanya berebutan remah-remahnya saja.

FOUNDER START UP HANYA MENJADI MANDOR DIGITAL
Lantas, buat apa Indonesia memiliki 10 unicorn dengan valuasi puluhan triliun jika mayoritas sahamnya dimiliki investor asing dan foundernya malah tinggal memiliki 5% saham? Bukankah sang founder hanya menjadi mandor digital para venture capital asing dengan mempekerjakan budak-budak digital di negeri sendiri? Apa untungnya bagi seluruh rakyat Indonesia? Apa manfaatnya bagi UKM lokal kita?

Mari kita bersama-sama memberi masukan konkret apa yang harus dilakukan Presiden Jokowi saat ini untuk memajukan ekonomi digital bangsa setelah mengangkat Jack Ma menjadi penasehat e-commerce Indonesia.

Masukan terbaik akan disampaikan ke Presiden Jokowi dan mendapatkan hadiah uang tunai Rp. 1 juta dari Asosiasi Bisnis Digital.

Kirimkan masukan konkret Anda hari ini juga sebelum jam 24.00 ke info@ladova.net

Info lebih lengkap:
www.LADOVA.net