Ekonomi Digital Indonesia Dalam Cengkraman China

Bendera Cina

Ekonomi Digital Indonesia Dalam Cengkraman China

GRATIS Seminar Bisnis Online Tanpa Modal
Bergabunglah bersama 36 ribu anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD) yang sudah memiliki bisnis online tanpa modal dengan bantuan LADOVA Consulting, Digital Business Consulting
GRATIS menghadiri seluruh pelatihan bisnis online tanpa modal dengan menjadi anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD)

Tidak ada satu pun orang Indonesia yang tahu bahwa saat ini Indonesia sudah menjadi kekuatan ekonomi digital nomor 1 di Asia Tenggara. Hal ini tentunya disebabkan karena para raksasa digital yang datang jauh-jauh dari negara komunis terbesar dan tersukses di dunia, Tiongkok. Hebatnya modal asing yang begitu besar ini tiba-tiba datang sendiri tanpa perlu kerja keras pemerintah. Malah anak-anak muda Indonesia yang berkreasi dan bekerja keras pagi siang sore dan malam. Presiden Jokowi tidak perlu hujan-hujanan memayungi Jack Ma seperti Raja Salman untuk mendapatkan investasi Alibaba senilai puluhan triliun! Memang padi semakin berisi semakin merunduk. Bahkan Jack Ma tidak datang dengan pesawat jet super mahal dan membawa elevator sendiri padahal beliau merupakan orang kedua terkaya di Tiongkok! Luar biasa…

Alibaba - Dominasi

Berapa total investasi Alibaba di Asia Tenggara khususnya Indonesia ini? Tidak ada yang tahu secara pasti karena memang dirahasiakan. Hanya segelintir saja invetasi Tiongkok yang memang sengaja dibuka ke publik biar ada heboh sedikit. Padahal angka-angka fantastis yang tertuang di media massa barulah sebagian kecil dana investasi yang dikucurkan oleh para raksasa digital Tiongkok. Sebagai kompilasi berita di media, kita semua sudah termehek-mehek ketika mendengar Alibaba menyuntikkan Rp. 13 Triliun ke Tokopedia hanya untuk ditukar saham minoritas. Angka minoritasnya pun publik tidak diberitahu bisa 20%, bisa juga 30%. Jika 30% artinya nilai perusahaan Tokopedia sudah mencapai Rp. 43 Triliun. Angka yang tergolong sangat wajar untuk perusahaan digital yang sudah berusia sangat matang, 8 tahun, dan memiliki perputaran uang Rp. 1 Triliun per bulan atau Rp. 12 Triliun per tahun. Banyak pengamat ekonomi amatir yang mengira nilai investasi ini kemahalan karena Tokopedia perusahaan yang masih merugi namun bagi pengamat ekonomi digital papan atas nilai investasi ini jika untuk 30% saham terlalu murah karena Tokopedia masih memilih potensi untuk tumbuh besar 20 kali lipat lagi seiring dengan peningkatan kelas menengah dan naiknya penetrasi internet di Indonesia.

Untuk akuisisi penuh Lazada yang dijual rugi ke Alibaba juga Jack Ma menang banyak karena Lazada melayani pasar Asia Tenggara dan potensi pasar Asia Tenggara juga masih bisa tumbuh 30 kali lipat lagi dari sekarang. Hanya dengan Rp. 13 Triliun, Alibaba tidak perlu repot-repot memperkenalkan Alibaba serta cari konsumen lagi dari nol. Tentu angka ini sangatlah murah. namun karena Lazada bukan start lokal kita tidak perlu membahasnya lebih lanjut.

Lantas, bagaimana dengan investasi Alibaba di Grab? Angka ini pun juga dirahasiakan namun kurang lebih sama dengan investasi raksasa digital Tiongkok, Tencent yang sukses besar membuat aplikasi WeChat. Yah di kisaran
Rp. 14 Triliun juga. Bagaimana dengan raksasa digital Tiongkok lainnya seperti Oppo, Vivo dan Xiaomi yang sudah produksi gadget-nya di Indonesia untuk memenuhi aturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri)? Yah paling perusahaan gadget yang tidak mau bangun pabrik di Indonesia juga nanti bangkrut juga.

Ada juga raksasa logistik Tiongkok yang sangat cekatan mengirim paket, J&T dari Oppo Group yang berani investasi besar-besaran untuk menguasai pasar logistik e-dagang. Bahkan kirim 1 paket pun dijemput oleh kurir mereka door-to-door. Lalu bagaimana dengan ratusan perusahaan logistik lokal? Yah paling dalam beberapa tahun ke depan mereka juga bangkrut karena tidak mampu bersaing dari sisi harga dan kualitas pelayanan. Bagaimana mungkin kecebong bisa ikut berenang di kolam yang sudah dipenuhi para hiu ganas? Harus diakui para raksasa Tiongkok modalnya tidak ada serinya karena di negara asalnya mereka raksasa yang sudah terbiasa melayani 1,6 milyar penduduk Tiongkok. Jadi kalau hanya melayani 250 juta penduduk Indonesia sih buat mereka sangatlah mudah. Semudah Juara Dunia catur bermain lawan anak SD kelas 4 yang baru belajar catur 1 minggu.

Anak perusahaan Alibaba, Ant Financial juga merupakan salah satu investor Truemoney yang sangat sukses megedukasi penggunaan non-tunai di warung-warung pedesaan. Saya sangat yakin nilai perusahaan Alibaba Group suatu hari nanti akan mengalahkan para raksasa digital Amerika seperti Google, Facebook dan Amazon yang digabung dalam 1 kolam. Hal ini sangat realistis karena Alibaba merupakan IPO tersukses di Amerika. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan Tiongkok yang bahkan kantornya jaraknya ribuan kilometer dari Silicon Valley bisa lebih unggul dari jenius-jenius yang tiap hari berkantor di Amerika?

Nilai perusahaan Alibaba Group saat ini memang sudah jauh lebih besar dari nilai perusahaan Amazon karena memang Alibaba melayani ekspor ke ratusan negara di seluruh dunia. Betapa mudahnya orang Amerika yang mau impor barang dari Tiongkok tanpa perlu repot-repot terbang puluhan jam. Apa sih yang tidak bisa diproduksi di Tiongkok? Mulai dari peniti sampai iPhone X saja mereka bisa buat dengan mudahnya. Apalagi hanya baju dan mainan anak, sambil merem mereka juga bisa.

Menariknya, Alibaba dibangun dari nol bukan oleh ahli IT Tiongkok ternama atau pun anak konglomerat, namun justru oleh seorang pemuda sederhana yang bahkan ditolak bekerja dimana-mana. Jack Ma dalam berbagai acara seminar senang sekali menertawakan kegagalan-kegagalan dirinya di masa lalu. Tapi mungkin memang sudah takdir, Jack Ma jadi orang sukses. Kenapa saya bilang takdir? Karena Alibaba dibangun dengan visi yang sangat jelas untuk membantu usaha kecil dan menengah (UKM) Tiongkok menembus pasar ekspor global bukan untuk memperkaya diri seorang Jack Ma. Pada 4 tahun pertama Alibaba berdiri, mereka terus merugi namun email-email positif yang dikirimkan para pengguna Alibaba memberi semangat Jack Ma dan timnya untuk tetap bertahan dalam membangun Alibaba agar bisa membantu UKM Tiongkok lebih banyak lagi.

Setelah sebelumnya Jack Ma sempat menolak menjadi penasihat ekonomi e-dagang Indonesia dan lebih memilih Malaysia untuk menjadikan pusat bisnis Alibaba di Asia Tenggara, akhirnya secara mengejutkan Jack Ma resmi menjadi penasihat ekonomi e-dagang negeri ini. Banyak kontroversi baik positif maupun negatif yang timbul atas penunjukan Jack Ma. Sebagian UKM dan start up di Indonesia menentang dan mengkritik keras, sebagian lagi mendukung positif serta sebagian besar sisanya tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di Indonesia. Mayoritas orang Indonesia kan hanya penonton, penggembira, konsumen dan penyebar hoax. Minoritasnya yang cerdas dan mau bekerja keras cukup beruntung bisa bekerjasama dengan para raksasa Tiongkok.

Di era ekonomi digital yang sangat cepat dan masif, terjadi pergeseran transaksi dari dunia luring ke dunia daring. Dunia luring yang fisik toko serta bisnisnya bisa dilihat jelas serta diawasi oleh pemerintah mendadak berpindah ke transaksi tak kasat mata. Tidak ada transaksi uang tunai dalam mobil Uber, Grab dan Go Jek. Semuanya bisa dilakukan melalui kartiu kredit, kartu debit bahkan
e-money yang mereka ciptakan sendiri. Kini para pemain bisnis daring bisa mengjangkau seluruh dunia dari kamar kos-kosanya yang sempit. Inilah revolusi digital yang mengubah total cara kita hidup dan berbelanja.

Jika di Tiongkok ada sosok yang sederhana Jack Ma, maka di Indonesia juga ada pendiri Tokopedia, William Tanuwijaya & Leontinus Alpha Edison. William merupakan mantan operator warnet dari Pematang Siantar yang dalam waktu singkat bisa memiliki e-dagang terbesar nomor 2 di Indonesia. Internet telah memungkinkan siapa saja yang tinggal di mana saja untuk memiliki kesempatan yang sama menjadi sukses dalam bidang apa pun. Jika saat ini Anda masih miskin mungkin karena Anda hanya memanfaatkan internet untuk membahas isu komunis dan 5.000 senjata ilegal di sosial media. Teruskan saja bahas hoax dan isu tak berguna jika Anda mau terus-terusan hidup miskin di saat yang usianya belasan sudah kaya raya di era digital.

Jika kita melihat betapa mengguritanya bisnis Alibaba dari sektor hulu hingga hilir, maka wajar jika ada banyak pengusaha lokal yang takut Alibaba membawa semua gerbong bisnisnya merangsek masuk ke Indonesia. Memang perlahan tapi pasti kita sudah melihat bagaimana Lazada yang diakuisi Alibaba mulai membawa gerbong anak perusahaan Alibaba, Taobao, dengan menawarkan promosi gratis ongkos kirim. Strategi promosi ini sangat fenomenal karena produk dari Tiongkok bisa terasa begitu dekat dan sangat murah ketimbang produk UKM dari kota tetangga di Indonesia yang proses pengirimannya dikenakan ongkos kirim. Inilah bentuk perdagangan bebas yang begitu masif dan hampir mustahil dilawan oleh UKM bermodal kecil.

Dengan modal yang begitu besar, tentu pemain e-dagang raksasa Tiongkok bisa memberikan ribuan kemudahan serta subsidi harga untuk para konsumennya. Dengan kapasitas produksi milyaran unit per tahun di pabrikan Tiongkok, bagaimana industri rumahan di Indonesia bisa bersaing dalam hal kualitas maupun harga? Tidak perlu dibahaslah hal ini karena ini isu yang tidak semenarik isu kebangkitan PKI yang anggotanya sudah 15 juta itu.

Apalagi ada kekhawatiran para UKM lokal produk mereka bisa dengan mudahnya ditiru oleh pemain e-dagang Tiongkok untuk dibuat pabrikan Tiongkok dan dipasarkan ke seluruh dunia. Hal ini diperparah dengan butanya pengusaha lokal kita dalam melindungi hak atas kekayaan intelektual (HAKI) produk mereka. Kondisi inilah yang terjadi dalam negara yang menganut sistem ekonomi liberal-kapitalis, aktivitas ekonomi dibiarkan dijalankan oleh aktivitas pasar yang dilakukan oleh penjual dan pembeli.

Hal ini berbanding terbalik dengan sistem ekonomi Tiongkok yang mengawinkan sistem ekonomi sosialis-kapitalis dengan apik. Hari ini tidak mungkin ada yang namanya Alibaba jika pemerintah Tiongkok membiarkan pemain lokalnya bersaing secara terbuka dengan Amazon. Kita tidak akan pernah mendengar kisah sukses WeChat jika di awal-awal berdirinya mereka harus melawan dominasi WhatsApp yang penggunanya sudah ratusan juta.

Kita tidak akan bisa mendengar betapa perkasanya Didi Xuxing mengakuisi Uber dan menjadi raja atas pasar mereka sendiri. Bahkan dikabarkan Alibaba juga sedang dalam proses tawar menawar untuk berinvestasi di Uber Asia Tenggara. Kita juga bisa melihat betapa frustrasinya Yahoo dan Google menembus blokir pemerintah Tiongkok demi mengamankan bayi mungil mesin pencari Tiongkok bernama Baidu. Hari ini semua bayi mungil itu yang dirawat dengan kasih sayang oleh pemertihnya sudah Go Public dan tumbuh besar menjadi raksasa digital paling ditakuti dunia.

Ironisnya, kita bisa melihat dalam negara liberal-kapitalis lainnya, Flipkart dan Snapdeal di India malah benar-benar babak belur kedatangan Amazon dari benua Amerika yang nun jauh di sana. Ribuan kisah sukses dan gagal para pemain ekonomi digital di dunia yang dipaparkan di atas tentunya bisa menjadi pelajaran sangat berharga bagi pemerintah Indonesia dalam membangun iklim persaingan e-dagang yang sehat dan bisa menjadikan para pengusaha lokal menjadi raja di negara mereka sendiri. Apakah keberhikana pemerintah pada pemain Tiongkok yang komunis atau pemain lokal yang Pancasilais? Kita tunggu saja tanggal mainnya. Namun melihat tidak ada nama besar pakar ekonomi digital lokal yang dijadikan penasehat e-dagang, saya pesimis pemerintah bisa memahami apa yang diperlukan oleh 57 juta UMKM Indonesia yang menyumbang 68% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang sudah menyentuh $ 1,5 milyar.

Angka 57 juta UMKM ini pun entah dari mana datangnya. Yang saya dengar dari Oknum Kementrian BUMN ini data yang digabung dari 11 kementrian yang didapat merupakan UKM binaan para BUMN. Anehnya sudah 72 tahun Indonesia merdeka tapi sampai detik ini kelihatannya 11 kemnetrian kita tampaknya terlalu sibuk dengan isu bangkitnya PKI sehingga tidak punya waktu menyortir dan memvalidasi data-data ini karena banyak sekali data yang overlap dan redundant antara kementrian yang 1 dengan kementrian lainnya. Kalau data lain yang lebih valid yang saya dengar dari petinggi bank swasta terbesar di Indonesia sih dari mutasi rekeningnya kurang lebih ada 10 juta pengusaha di Indonesia. Saya rasa data ini lebih valid namun belum akurat menggambarkan berapa banyak sih sebenarnya orang Indonesia yang pengusaha dan perlu dibantu pemerintah? Apa pernah ditanyakan ke para pengusaha kecil di pelosok-pelosok sana jika mereka membutuhkan tol laut senilai ratusan triliun serta kereta api cepat yang harganya puluhan triliun? Jangankan menikmati jalan tol yang investasinya ribuan triliun, internet dan listrik saja mereka tidak punya. Apa benar Indonesia sudah merdeka?

Percuma saja toh akhirnya ribuan triliun infrastruktur yang dibangun pemerintah nanti yang menikmati hanya para raksasa digital Tiongkok yang komunis. Paling nanti 20 tahun lagi ketika Tiongkok jadi negara adidaya mengalahkan Amerika Serikat, ratusan juta orang Indonesia dan Amerika Serikat pasti berduyun-duyun jadi pengikut komunis dan membangkitkan kembali Partai Komunis daripada mati kelaparan. Paling 57 juta UKM kita tidak sampai 10 tahun lagi semuanya bangkrut dan mati kelaparan digulung ombak para raksasa Tiongkok. Jadi masih menanggap komunis jahat? Lebih jahat mana yang membiarkan komunis merajalela menguasai aset-aset strategis bangsa kita yang Pancasila? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang, jawabannya pasti goyang-goyang.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*