Bagaimana Mendapatkan Modal 27 Milyar Hanya Modal Ide?

Bagaimana Mendapatkan Modal 27 Milyar Hanya Modal Ide?

GRATIS Seminar Bisnis Online Tanpa Modal
Bergabunglah bersama 36 ribu anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD) yang sudah memiliki bisnis online tanpa modal dengan bantuan LADOVA Consulting, Digital Business Consulting
GRATIS menghadiri seluruh pelatihan bisnis online tanpa modal dengan menjadi anggota Asosiasi Bisnis Digital (ABD)

         Salah satu, presentasi Start Up paling gila, paling provokatif dan paling menohok yang pernah saya saksikan sendiri adalah presentasi Start Up-nya Paul Rivera, Founder Kalibrr.com. Ketika beliau datang lengkap bersama tim dan investornya dari KickStart.com ke kelas MBA untuk merekrut kami, saya bisa merasakan hawa ruangan langsung terasa “sangat panas” karena ketika beliau menanyakan apa itu Series A Funding, berapa besarnya, tidak ada satu pun mahasiswa MBA yang bisa menjawab. Saya sih tahu cuma sebelum saya angkat tangan, Paul Rivera langsung menohok para Profesor-Profesor MBA kami betapa bodohnya kami tidak tahu apa itu Series A Funding dan muka Profesor kami langsung merah padam. Saya rasa hal ini sangat wajar karena kami belum mendapatkan kelas Venture Capital Investing yang baru kami pelajari pada semester berikutnya, itu pun harus bayar lagi $ 550. Ilmu itu memang mahal yah.

Pada semester akhir program MBA pun, mata kuliah Venture Capital Investing merupakan Elective Course, hanya optional saja dikhususkan untuk mahasiswa yang tertarik pada peminatan Entrepreneruship. Sedangkan untuk peminatan lain seperti Finance, Marketing, dsb tidak diajarkan mengenai Venture Capital Investing karena memang tidak nyambung dengan pekerjaan mereka setelah mereka lulus program MBA. Teman-teman sekelas saya yang mayoritas datang dari India dengan mengambil student loan $48.000 tentunya tidak berani untuk mendirikan Start Up sendiri karena jelas itu pilihan yang sangat spekulatif. Pilihan yang jauh lebih aman adalah bekerja sebagai konsultan atau manager di McKinsey atau Accenture dan berbagai perusahaan top lainnya dengan gaji minimal $120.000 per tahun supaya investasi pendidikan mereka bisa balik modal dengan jangka waktu tidak lebih dari 6 bulan selama grace period.

Begitulah hitung-hitungan Return on Investment-nya (ROI) program MBA, tidak salah sih ambil utang bank untuk kuliah namun saya pribadi tidak sampai se-nekad teman-teman saya dari India yang bahkan sampai jual mobil dan rumah untuk menutupi biaya kuliah. Saya sih orangnya konservatif saja, jauh lebih aman bagi saya untuk apply beasiswa penuh pemerintah Jepang melalui Asian Developement Bank – Japan Scholarship Program. Mungkin karena mendapatkan beasiswa penuh dan kewajiban sudah tanda tangan kontrak beasiswa harus kembali ke Indonesia minimal selama 2 tahun untuk membangun Indonesia, saya jadi menolak gaji $60,000 per tahun sebagai Vice President of Operations salah satu Start Up milik Rocket Internet Group untuk penempatan di Indonesia. Selain pertimbangan jam kerja yang hampir 20 jam, tentunya jika dibandingkan beberapa gaji teman saya yang rata-rata bekerja sebagai konsultan IT atau konsultan bisnis di McKinsey dan Accenture, gaji mereka jauh lebih baik dari saya karena ada di angka $ 125.000 per tahun tawaran gaji $60,000 sangatlah kecil! Apalagi jika dibandingkan dengan lulusan MBA Harvard dan Stanford yang menurut situs Investopedia gajinya semakin bikin ngiler $275,000 sampai $300,000! Saya sih tadinya memang sengaja apply ke Rocket Internet Group karena memang saya ingin benar-benar belajar sistem kerja serta cara bisnis mereka sebagai persiapan mendirikan Start Up sendiri. Namun setelah saya pikir-pikir dan tukar pikiran dengan pacar saya yang cantik, tinggi, putih dan baik hati: “Sudahlah saya pikir, daripada kerja rodi, sampai ga tidur-ga tidur, kesehatan saya rusak, dengan gaji ga seberapa untuk perusahaan Jerman, mending saya bikin saja Start Up Lokal dari NOL supaya bisa mengikuti jejak idola saya, Paul Rivera.” Lagipula pacar saya yang bekerja sebagai Manager Bank Asing masih belum mau buru-buru menikah karena masih mengejar karirnya, namun dia selalu mendukung apa yang saya lakukan, dan ternyata oh ternyata mendirikan bisnis sendiri merupakan pengalaman 5 BULAN PALING MEMBAHAGIAKAN YANG PERNAH SAYA ALAMI!

Ga nyesel deh pokoknya saya bikin LADOVA Fashion, Affordable Premium Brand yang sangat berambisi mengalahkan ZARA di setiap pojok nusantara. Mimpinya setelah 5 tahun battle proven kami mau bikin sistem franchise-nya supaya kita bangga punya brand lokal yang premium tapi terjangkau. Bisnis kami yang kedua, LADOVA Foundation, #1 Non-Profit Training Provider in Indonesia, serta bisnis kami yang terbaru LADOVA Consulting, #1 Non-Profit e-Commerce Consulting in Indonesia, banyak memberikan manfaat bagi orang banyak. Asiknya mendirikan Start Up sendiri adalah kita bisa menjadi bos atas diri sendiri, kita memegang penuh atas waktu kita 24 jam, tidak ada lagi bos yang tidak tahu diri yang memberi kerja seabrek-abrek namun gaji pas-pasan. Dengan membuka usaha sendiri, kita bisa bebas mengerjakan apa saja yang kita sukai, namanya juga bos, siapa sih yang berani ngatur bos?

Apalagi enaknya tarif internet Indonesia kini termasuk yang paling murah di dunia, kita cuma perlu bayar Rp 25 ribu per bulan untuk koneksi 4G dengan kuota 2 GB per bulan. Kuota ini sudah lebih dari cukup untuk memulai bisnis online kita sendiri. Walaupun akhir-akhir ini Bolt seenaknya saja terus menaikkan harga dan memotong kuota bonus, tetap saja kita tidak punya pilihan yang lebih baik dan lebih murah karena operator telco terbesar di Indonesia yang milik negara pun seperti Telkomsel justru ngambil untungnya gila-gilaan banget, masa Rp 200 ribu per bulan hanya dapat kuota 2 GB itu pun kuota kalong atau hanya bisa diakses setelah jam 00.00?

Dengan bekerja di rumah, saya bisa jalan pagi bareng teman-teman saya yang usianya rata- 2 kali lipat usia saya, 50-80 tahun namun masih sangat energik berjiwa muda jalan pagi jam 04.30. Enaknya bergaul dengan orang kaya, mindset mereka sangat positif, optimis, dan selalu bersyukur kepada Tuhan akan kesehatan prima serta umur yang panjang.

Ada beberapa teman saya yang masih muda berusia 40-an dan sudah jadi milyarder namun yang saya pelajari dari sahabat baik saya yang baru ulang tahun ke-70 dengan omzet bisnis per tahunnya sudah Rp 1,2 triliun, adalah: rata-rata orang sukses sudah bangun sejak jam 03.30 pagi untuk jalan cepat, bakar kalori dan tidur malam pun juga cepat pukul 21.00 malam sudah tidur. Uniknya, orang makin kaya hidupnya makin sederhana, sehari-hari kemana-mana paling naik Honda Jazz atau Toyota Yaris nyetir sendiri, tidak pakai sopir. Sementara Porsche, Mercedes serta Alphard hanya disimpan dan digunakan ketika pergi bersama keluarga saja pada saat weekend. Melalui pergaulan jalan pagi yang luas inilah saya bisa dengan mudah mendapatkan angel investor tanpa perlu pitch. Seperti joke Silicon Valley yang sudah terkenal, carilah dulu funding dari ring 1 Anda, 3F: friends, family and fools. Enaknya jadi pengusaha seperti mereka kita ga kena macet, ga tua di jalan, ga capek, bisa tidur siang sebentar 1 jam, makan juga bisa masak sendiri, pengeluaran juga jauh lebih murah karena ga kemana-mana jadi 99% penghasilan saya tabung dan investasikan kembali ke bisnis, bisa bertemu dengan siapa saja kapan saja, bisa ikut seminar kapan saja, dan satu hal yang paling penting buat saya: saya bisa melakukan semua hal yang saya cintai! Do what you love and money will follow…

Kalibrr

Kalibrr

Nah yang menarik hanya modal ide, tanpa website, tanpa traction, Paul Rivera berhasil menjadi satu-satunya Start Up di Asia yang mengikuti inkubator Start Up Y Combinator di Silicon Valley, Amerika Serikat dan mendapatkan investasi sebesar $2 juta atau langsung lompat ke Series A Funding dari Y Combinator!

Padahal, menurut situs Y Combinator sendiri mereka hanya berinvestasi sebanyak 2 kali dalam 1 tahun, itu pun dengan dana yang cukup “kecil” $ 120K:
Y Combinator created a new model for funding early stage startups. Twice a year we invest a small amount of money ($120k) in a large number of startups .

WOW!

Saya pun langsung penasaran dan bertanya kepada Paul, bagaimana mungkin hanya modal ide saja Anda bisa langsung dapat Series A Funding?
Dia bilang mantranya cuma satu: “Always be pitching!” Dengan pengalaman lebih dari 100 kali pitching ke ratusan investor yang berbeda, Paul akhirnya berhasil meraih visinya memajukan industri BPO (Business Process Outsourcing) di Filipina yang merupakan kontributor terbesar nomor 1 Produk Domestik Bruto (PDB) Filipina. Filipina memang kini menjadi primadona #1 Call Center Outsourcing di seluruh dunia karena rata-rata orang Filipina memiliki kemampuan bicara Bahasa Inggris yang jauh lebih baik dari orang India dan Indonesia. Di kesempatan rekrutmen yang lain, ketika CEO Accenture berkunjung ke kelas kami beliau juga dengan bangganya mengatakan bahwa ada lebih dari 30.000 karyawan call center Accenture di Filipina yang tentunya memerlukan e-recruitment serta e-training untuk merekrut tenaga call center serta seleksi secara cepat dan masif. Menurut Wikipedia industri call center Filipina berawal dari CS support via email untuk perusahaan-perusahaan besar di Amerika.

“Call centers began in the Philippines as plain providers of email response and managing services, these have industrial capabilities for almost all types of customer relations, ranging from travel services, technical support, education, customer care, financial services, and online business-to-customer support, online business-to-business support. The call center industry is one of the fastest growing industries in the country.”

Visi yang besar yang dilengkapi dengan pengalaman yang sangat kuat di industri BPO inilah yang membuat investor yakin Paul mampu mengeksekusi idenya dengan baik. Kunci kesuksesan pitch-nya terletak pada kualitas solusi, kualitas anggota tim yang Paul tawarkan kepada investor untuk memecahkan masalah-masalah yang superbesar (BHAG – BIG Hairy Audacious Goal).

Menurut Wikipedia BHAG artinya:

“A Big Hairy Audacious Goal (BHAG) is a strategic business statement similar to a vision statement which is created to focus an organization on a single medium-long term organization-wide goal which is audacious, likely to be externally questionable, but not internally regarded as impossible.”

Nah, kebetulan beberapa waktu lalu saya cukup terkejut dengan salah satu brosur Pesta Wirausaha 2015 komunitas Tangan di Atas (TDA) yang mengundang Paul Rivera sebagai pembicara utama. Berikut kutipan dari website Pesta Wirausaha 2015:

“Paul Rivera adalah CEO Kalibrr (www.kalibrr.com) yaitu perusahaan yang bergerak di bidang keterampilan dan akuisisi bakat. Untuk saat ini Kalibrr adalah startup satu-satunya di Asia yang mengikuti program Y Combinator di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Kalibrr berhasil menarik perhatian investor diantaranya Kickstart Ventures dan Omidyar Network (perusahaan investasi yang didirikan oleh seorang co-founder eBay).”

Sayangnya acara tersebut berbayar Rp 580 ribu, namun jika ada teman-teman yang berminat mendengar sharing langsung Paul Rivera di Jakarta secara GRATIS LADOVA Foundation sebagai #1 Non-Profit Training Provider in Indonesia akan berusaha mensubsidi, menanggung biaya pembicara, mencocokkan jadwal beliau di Jakarta serta mengundang beliau untuk berbagi ke teman-teman #StartUpLokal. Siapa yang berminat? Mohon daftarkan diri Anda secepatnya ke info@ladova.net. TERBATAS untuk 50 orang pertama saja yang memang mau belajar dengan serius. Disediakan konsumsi makan malam bagi 50 orang yang datang pertama.

Berbagi itu indah. Mari berbagi!

Word Count: 1607

Disclaimer:
Kisah mendapatkan modal 27 milyar hanya modal ide di atas merupakan kisah hidup Paul Rivera, Founder Kalibrr.com, yang begitu inspiratif. Namun kisah sukses selalu tidak pernah lepas dari 6 hal berikut:
1. kekuatan doa
2. kerja keras
3. kerja cerdas
4. fokus
5. konsisten
6. ketekunan

Leave a comment

Your email address will not be published.


*